Entah dari mana datangnya, ada berbongkah- bongkah semangat yang disuntikan ke dalam diri gue. Gue merasa bangkit, merasa sangat jauh lebih baik. Entah apa pula yang membuat gue tersadar kalo hidup gue ini sempurna. Gue ini dikelilingi keluarga dan teman- teman terbaik gue. Gue merasa tertantang untuk menghadapai semua ini. Masalah ini kenapa terasa mengasyikkan untuk dipecahkan. Entah. Alhamdulillah…
Sekarang gak ada lagi yang bisa menghentikan semangat gue untuk maju. Semangat gue untuk skripsi, untuk hidup seimbang, untuk membuat diri gue lebih berguna bagi diri sendiri, keluarga, dan orang- orang yang gue cintai. Tidak bisa dipungkiri, stress seringkali datang, tapi ingatlah tujuan kita. Itu sih cuma kerikil kecil *songong haha. Harus punya target, obsesi, dan disiplin, maka gak ada lagi yang bisa menghalangi kita. Begitulah kata Mario Teguh. Semangat teman- teman.
”Lekas bangun dari tidur berkepanjangan dan nyatakan mimpimu, cuci muka biar terlihat segar.” Menjadi Indonesia- Efek Rumah Kaca.
Monday, 14 February 2011
Plagued
Kali ini saya benar- benar merasa menjadi orang paling bodoh sedunia! Yang cuma bisa menyesal atas apa yang telah terjadi. Apa coba? Bodoh sekali saya hanya demi satu hal saya relakan untuk menunda hal yang saya dambakan. Satu hal yang belum pasti, satu hal yang payah, satu hal yang FUCK! Seharusnya dari awal saya sadar akan semua ini. Kenapa ini selalu terjadi dengan saya? Keledai saja tidak pernah mau jatuh ke lubang yang sama? Saya berkali- kali terjebak kedalamnya. Kalau bukan bodoh apalagi namanya? Kali ini saya benar- benar membenci diri saya, mengutuk sumpah serapah ke dalam diri saya secara bertubi- tubi.
Jangan sebut- sebut “rumah”, “pulang” atau kata yang maknanya tertuju kesitu. Saya akan mengutuk siapapun itu. Sensitivitas sedang merasuki diri saya seutuhnya. Jadi kalau anda marah, saya juga tidak akan bertanggung jawab atas hal tersebut. Terlebih beberapa potongan pesan yang membuat saya berontak.
“Belum pulang? Parah!”
“Kemaren- kemaren lu ngapain aje?”
“Kirain kemaren pulang?”
Saya yakin anda menganggap saya “lebai’ atau “sepele” tapi yang tau perasaan saya ya saya sendiri. Belum pernah saya separah ini. Bahkan buku yang didaulat sebagai “the best escape” pun tidak bisa me-recover perasaan ini. Belum pernah saya membuang-buang tenaga menangis lama begini. Saya kangen sekali dengan keluarga saya. Masa bodoh teman- teman saya mau menganggap saya lebai, eksplisit atau apa namanya. They don’t know what I feel. They never know.
Written in January 26, 2011 at 22:00 p.m when I’m fully tortured.
Jangan sebut- sebut “rumah”, “pulang” atau kata yang maknanya tertuju kesitu. Saya akan mengutuk siapapun itu. Sensitivitas sedang merasuki diri saya seutuhnya. Jadi kalau anda marah, saya juga tidak akan bertanggung jawab atas hal tersebut. Terlebih beberapa potongan pesan yang membuat saya berontak.
“Belum pulang? Parah!”
“Kemaren- kemaren lu ngapain aje?”
“Kirain kemaren pulang?”
Saya yakin anda menganggap saya “lebai’ atau “sepele” tapi yang tau perasaan saya ya saya sendiri. Belum pernah saya separah ini. Bahkan buku yang didaulat sebagai “the best escape” pun tidak bisa me-recover perasaan ini. Belum pernah saya membuang-buang tenaga menangis lama begini. Saya kangen sekali dengan keluarga saya. Masa bodoh teman- teman saya mau menganggap saya lebai, eksplisit atau apa namanya. They don’t know what I feel. They never know.
Written in January 26, 2011 at 22:00 p.m when I’m fully tortured.
Friday, 11 February 2011
Malam Ketika Itu
Sore tadi sepulang dari test TOEFL (Test of English as a Foreign Language) di ITB, gue berehenti di tukang rujak yang mangkal di samping masjid deket kostan. Sengaja gue pesen pedesnya yang banyak, biar otak ini sekalian terbakar seiring pasca diperes di test tadi. Gak ding, soal yang di ITB jauh lebih mudah dari yang di UPI. Sudah- sudah lupakan tes mematikan itu. Pas lagi beli rujak, pandangan mata gue tertuju kepada anak- anak kecil seumuran 7 atau 8 tahun sedang menghafal hadits bersama yang dipimpin oleh seorang anak kecil gempal berkerudung, sangat lucu. Ini pemandangan yang menyejukkan, batin dan mata. Bukannya gue sok alim, tapi ini yang gue rasakan. Udah lama gue gak melihat pemandangan ini, apalagi di daerah perkotaan yang disana- sini pusat perbelanjaan yang selalu penuh sesak. Gue berasa tertarik ke masa- masa dulu. Teringat ketika, waktu sehabis maghrib adalah waktu favorit untuk keluar rumah dan bermain walaupun seringkali dilarang. Karena waktu itu, waktu dimana diramaikan oleh anak- anak yang akan mengaji di surau. Ramai dan berisik di jalanan. Tapi gue suka. Emang sih mengaji bukan tujuan utama gue, hehe gue lebih tertarik untuk bermain petak umpet sebelum guru ngaji datang dari masjid. Setelah mengaji, gue suka sedih karena gue gak bisa main lagi dan harus pulang. Kalo ngeliat sekarang, sangat jauh berbeda. Malam tak lagi ramai, kalopun ramai bukan karena aktivitas mengaji yang sekarang dianggap kuno. Malam diramaikan dengan hilir mudik ke tempat hiburan. Sistem sudah berbeda, anak- anak sekarang lebih tertarik dengan permainan indoor yang tidak terlalu membutuhkan teman untuk memainkannya. Kemana malam yang penuh warna itu? Gue kangen sama masa- masa itu dimana malam menaungi arena bermain kita.
NB: Ngomong- ngomong ITB, baru 2 kali gue kesana. Itu pun yang hanya untuk kepentingan tes toefl aja. yang pertama daftar toefl dan yang kedua untuk tes toefl. BLAH. Setelah gue perhatikan, gue gak terlalu menemukan banyak sepeda motor terparkir, malah dimana- mana ada sepeda. Orang- orang bersepeda kesana kemari. Gue iri.
NB: Ngomong- ngomong ITB, baru 2 kali gue kesana. Itu pun yang hanya untuk kepentingan tes toefl aja. yang pertama daftar toefl dan yang kedua untuk tes toefl. BLAH. Setelah gue perhatikan, gue gak terlalu menemukan banyak sepeda motor terparkir, malah dimana- mana ada sepeda. Orang- orang bersepeda kesana kemari. Gue iri.
Raja dan Ratu
Sudah lebih seminggu usia pernikahan sepupu gue yang dirayakan 2 Februari kemarin. Ada kata- kata yang menarik perhatian gue dan sering dilontarkan terutama tukang riasnya. “Duh, cantiknya jadi ratu sehari hari ini mah!”, “Duh pangling, cantik banget, bener- bener jadi ratu hari ini!” Enggak, gue gak iri sama sekali dengan didandani dan julukan ratu itu, sebaliknya malah gue bertanya- tanya. Ratu? Ratu apanya? Karena didandani secantik mungkin terus disebut ratu? Apa ratu itu pake make up, kepala diganjel atau dipakein sesuatu, kembang di sana sini? Apa ratu itu Maia Ahmad dan Mulan Kwok? BINGO, You’re right! Katanya raja dan ratu bisa ngapain aja, apanya yang ratu kalo cuma bisa duduk mempertahankan postur tubuh agar terlihat sempurna, apanya yang ratu kalo dibebenai tugas menyalami semua orang yang datang, apanya yang mau kalo makan dan bahkan pipis pun susah? Yah, mungkin itu generalisasi orang terhadap ratu atau raja. Kalo versi gue, ratu sehari adalah dimana gue bangun tidur leyeh- leyeh di kasur, ngopi, ketak- ketik nulis blog, baca buku, leyeh- leyeh lagi, makan cemilan, ngopi lagi, ngirup udara seger dari balkon sambil denger ‘Spoken’-nya Pure Saturday atau ‘The Heart of Life-nya-John Mayer’, main sepeda, menikmati sore di atas genteng, pake baju belel, kembali leyeh- leyeh, nonton spongebob, masak pancake atau pasta, ketak- ketik lagi, ketawa- ketiwi sama adek- adek gue, nonton Allez Cuisine dan Aroma, ngopi lagi, baca buku, dengerin radio Prambors, dan diakhiri dengan menulis agenda untuk esok hari. Hmm…jauh dari dandan, baju ribet, dan gak bisa kesana kemari. Walau bagaimanapun, memiliki pernikahan yang sesederhana mungkin sangat sulit untuk diwujudkan, terlebih budaya kita memegang teguh kalo pernikahan itu bukan hanya antar 2 orang yang akan terikat tapi 2 keluarga (besar). Apalagi keluarga gue termasuk keluarga yang sangat menjunjung tinggi adat. Pasti lah upacara adat mah gak ketinggalan. Padahal yang mau nikah siapa sih? Dan pasti suatu saya akan menjadi ‘ratu’.
I Love You ( 2006)
Sekarang “What Can I Do-nya The Corrs lagi mengalun merdu. Kalo dengar lagu ini, saya berasa tertarik kembali ke lorong waktu masa SMA dulu, tepatnya akhir tahun 2006, selesai UAS dan menghabiskan tahun baru di salah satu rumah teman kami, Tika. Rasanya lagu ini memorable sekali. Lekat dalam ingatan saya, kita menghabiskan malam dengan barbeque-an (baca: bakar- bakaran), truth or dare, dan tawa. Juga diakhiri dengan resolusi- resolusi konyol selain lulus UAN yang terlihat normal. Haha…gelak tawa. Saya sangat rindu moment- moment itu. Walaupun kita kumpul kembali seperti dulu, dengan menu yang sama, dan tentunya truth or dare, moment-nya tidak akan sama. Moment itu yang sangat penting. Yah tahun 2006, tahun yang selalu menjadi favorit saya. Setiap detiknya berwarna dari mulai 1 January hingga 31 Desember. Bahkan, dalam akun formspring.me, tahun 2006 adalah jawaban dari pertanyaan “If you had one year to live, what year is it?”. Awalnya, saya menyangka akan datang kesialan di tahun itu karena saya dulu sangat tidak suka angka 6. Angka tanggung. Nilai aman tapi menyakitkan. Ternyata, jauh berbeda dengan apa yang ada di pikiran saya. Tiap detiknya berwarna. Menikmati senja di atas genting rumah sambil memetik jeruk limao yang waktu itu sangat lebat, click five, menari, lomba, terlambat datang ke sekolah, karya ilmiah, dan cinta (monyet). Setiap kali saya ingat ini, selalu secara sadar ataupun tidak senyum tersungging di bibir ini. Ngomong- ngomong, tempo hari saya menerima sms yang bertuliskan “I Love You”. Rasanya kalimat itu sudah asing bagi saya, lama tidak mendengar sesorang mengatakan itu kepada saya. Tentu, saya sangat senang walaupun saya tidak membalas kembali sms itu dan tidak terlalu ditanggapi. Bukan, ini bukan dari orang itu. Hey, pria yang nan jauh disana, terima kasih telah mengirimkan sms itu walaupun saya enggak ‘I Love You Too”. Hehe…
Monday, 7 February 2011
I Love You Mom
I really miss my mom. Everytime I see woman on TV, on the street, I see Mom. Padahal baru kemaren gue liburan di rumah dan menghabiskan waktu bersama ibu gue. Tapi entah kenapa gue masih kangen banget sama ibu gue. Pengen terus sama- sama sama dia. Beban sebanyak apapun hilang gitu aja kalo gue lagi bareng, ngobrol, atau bahkan ngegosip bareng dia. Apapun masalahnya, gue gak pernah merasakan itu menjadi sesuatu yang berat dan penuh beban. Sekarang, gue sendiri lagi di kostan dan hawa- hawa masalah itu kembali muncul. Ditambah gue kepikiran sama adek gue yang mulai ngekost, gara- gara sekolahnya telat mulu lantaran macet. Gue kuatir banget dia takut kenapa-napa. Sekarang gue ngerasain perasaan orang tua yang awalnya ngelarang gue kuliah di Bandung. Pasti mereka juga sangat kuatir, apalagi beda daerah berkilo- kilo jauhnya, yang deket aja kuatir banget gue. Pengen banget rasanya pulang lagi ke rumah dan ngobrol sama ibu gue. Tapi tiap kali gue akan bercerita dan gue pikir akan diakhiri dengan tangisan cengeng gue, pasti gak kejadian. Mungkin karena saking nyaman berada di sampingnya seakan sudah menyembuhkan setiap luka walaupun tidak harus bercerita. Ya gue tau masalah harus dihadapi bukan dirasakan, pasti akan stress. Tapi mau bagaimana, sulit untuk menghadapai kenyataan. Tidak ada tempat untuk bercerita. Gue harap gue punya waktu untuk pulang sebelemu PLP dimulai. Kasian di rumah tinggal bapak, ibu, dan adek gue yang masih kelas 4 SD. I miss you Mom.
Subscribe to:
Posts (Atom)
