Sunday, 20 March 2011
Sunday, 13 March 2011
Fly to Honolulu
Fully thanks my Lord, I got this melody, finally.
Ten days.
January 6th 2006.
January 19th 2006.
How many amounts of happiness showered me right now?
Lots.
Subconsciously said, "How handsome you are, how handsome you are."
Ten days.
January 6th 2006.
January 19th 2006.
How many amounts of happiness showered me right now?
Lots.
Subconsciously said, "How handsome you are, how handsome you are."
Cruise
Terserah lo mau ngatain gue melow najis atau alay total, yang jelas gue lagi suka (lagi) sama lagu ini...
Take me to your place
Where our heart belongs together
I will follow you
You're the reason that I breath
I'll come running to you
Fill me with your love forever
Promise you one thing
That I would never let you go
'Cause you are my everything
It insanely flew me high away and away. I'm not exaggerating anyway. Reminding me of the nature, grass were moving slowly to right and left, the sun was showing its power of fire and shine, the bird flew to the south back to the nest. Look, the clouds was so various as if they showed certain shapes that we know. Plane, Gun, and Teddy Bear.
Sing me this song anybody, sing me this song entirely.
It was on January 2006.
Take me to your place
Where our heart belongs together
I will follow you
You're the reason that I breath
I'll come running to you
Fill me with your love forever
Promise you one thing
That I would never let you go
'Cause you are my everything
It insanely flew me high away and away. I'm not exaggerating anyway. Reminding me of the nature, grass were moving slowly to right and left, the sun was showing its power of fire and shine, the bird flew to the south back to the nest. Look, the clouds was so various as if they showed certain shapes that we know. Plane, Gun, and Teddy Bear.
Sing me this song anybody, sing me this song entirely.
It was on January 2006.
Saturday, 26 February 2011
Tekstur
Akhir- akhir ini gue merasa sial. Gue melakukan sesuatu tapi gue gak dapet atas apa yang telah gue lakukan. Apalagi kalo bukan lagi diuji atas kesabaran dan keteguhan hati kita kalo kita melakukan sesuatu secara benar dan pada tempatnya tetapi kita malah mendapat sesuatu yang menurut kita bukan hadiah sepantasnya. Yah, beinilah hidup, kalo kata Agnes di Chitato, “Life is never flat”. Secara tidak disadari kita memang membutuhkan kerikil- kerikil di jalan hidup kita. Hal ini yang suka dikeluhkan orang- orang padahal mereka ‘membutuhkannya’. Yang nyata aja ya, gue kalo makan gak ada yang kriuk- kriuk atau sesuatu yang tidak bertekstur, itu ngerasanya makannya gak asik karena gak ada sesuatu yang apa yah, begitu deh. Ngerti kan maksud gue? Haha tidak nyambung bukan? Bukan...
Gue dulu mengira kehidupan yang sempurna adalah kehidupan yang teratur, tepat pada tempatnya. Ternyata, tidak begitu, apa yang kita rencanakan tidak semua terlaksana. Dalam perjalanan hidup kita, pasti selalu ada ‘kejutan’ yang menghadang. Nikmati saja hidupmu.
“Nikmatilah saja kegundahan ini, segala denyutnya yang merobek hati” Melakolia- Efek Rumah Kaca
“Raba, tekstur, ciptakan gestur” Balerina- Efek rumah Kaca
fainnama’al ‘usri yusro.. innama’al ‘usri yusro…
"sesungguhnya bersama dengan kesulitan, ada kemudahan.. bersama dengan kesulitan, ada kemudahan.." (Al-Insyirah : 6-7)
...Dan itu disebutkan dua kali dalam Al-Qur'an
Gue dulu mengira kehidupan yang sempurna adalah kehidupan yang teratur, tepat pada tempatnya. Ternyata, tidak begitu, apa yang kita rencanakan tidak semua terlaksana. Dalam perjalanan hidup kita, pasti selalu ada ‘kejutan’ yang menghadang. Nikmati saja hidupmu.
“Nikmatilah saja kegundahan ini, segala denyutnya yang merobek hati” Melakolia- Efek Rumah Kaca
“Raba, tekstur, ciptakan gestur” Balerina- Efek rumah Kaca
fainnama’al ‘usri yusro.. innama’al ‘usri yusro…
"sesungguhnya bersama dengan kesulitan, ada kemudahan.. bersama dengan kesulitan, ada kemudahan.." (Al-Insyirah : 6-7)
...Dan itu disebutkan dua kali dalam Al-Qur'an
Shoulders and Ears
Akhir- akhir ini gue sering banget smsan sama adek gue. Gak tau gue juga kenapa jadi akrab sama adek gue padahal mah dulunya gue gelut wae tiap hari. Sampe orang tua aja pusing ngedenger gue dan adek gue berantem mulu. Kemaren adek gue sms
“Teh ita, nining pengen cerita,”
Dia cerita kalo dia gak kepilih jadi pengibar bendera buat hari senin gara- gara tangannya bengkok. Hah? Gue rasa gak ada korelasinya deh. Terus kakak gue sms juga
“Ta, sebel deh ada orang resek di tempat kerja”
Dia cerita kalo ada orang resek di tempat kerjanya yang suka pamer kalo dia ngalakuin ini itu, mending cuma sekedar pamer dan gak ngerecokin orang lain, parahnya dia juga suka jelek- jelekin kakak gue dan tukang ngadu ke atasan.
Gue bisa apa selain memberikan saran yang kalo gue merasakan hal itu belum tentu gue bisa mendengar dengan baik saran- saran dari orang.
Ini yang gue suka, bukan..bukan..bukan karena saudara perempuanku diledek. Tapi, kita membicarakan tentang kejadian sehari- hari. Pembicaraan antara adik- kakak. Saling curhat atau membicarakan hal- hal konyol. Secara disadari tau tidak, itu meminimalisasi faktor penyebab diare eits maksud gue percekcokan antar saudara..weehhh berat amat ya omongan gue. Dan dari situ, kadang kita bisa merefleksikan diri kita itu seperti apa. Kadang gue suka ngerasa malu kalo gue suka mengeluh sedangkan adek atau kakak gue sepertinya kuat menghadapi suatu masalah. Yah, itulah gunanya saudara, they always provide two shoulders to rely on and two ears to listen to. Sayangilah saudaramu.
“Teh ita, nining pengen cerita,”
Dia cerita kalo dia gak kepilih jadi pengibar bendera buat hari senin gara- gara tangannya bengkok. Hah? Gue rasa gak ada korelasinya deh. Terus kakak gue sms juga
“Ta, sebel deh ada orang resek di tempat kerja”
Dia cerita kalo ada orang resek di tempat kerjanya yang suka pamer kalo dia ngalakuin ini itu, mending cuma sekedar pamer dan gak ngerecokin orang lain, parahnya dia juga suka jelek- jelekin kakak gue dan tukang ngadu ke atasan.
Gue bisa apa selain memberikan saran yang kalo gue merasakan hal itu belum tentu gue bisa mendengar dengan baik saran- saran dari orang.
Ini yang gue suka, bukan..bukan..bukan karena saudara perempuanku diledek. Tapi, kita membicarakan tentang kejadian sehari- hari. Pembicaraan antara adik- kakak. Saling curhat atau membicarakan hal- hal konyol. Secara disadari tau tidak, itu meminimalisasi faktor penyebab diare eits maksud gue percekcokan antar saudara..weehhh berat amat ya omongan gue. Dan dari situ, kadang kita bisa merefleksikan diri kita itu seperti apa. Kadang gue suka ngerasa malu kalo gue suka mengeluh sedangkan adek atau kakak gue sepertinya kuat menghadapi suatu masalah. Yah, itulah gunanya saudara, they always provide two shoulders to rely on and two ears to listen to. Sayangilah saudaramu.
He Said "Ibu Guru."
Sebenernya hari ini gue lagi gak enak badan gara- gara kecapean gak tidur ngejar proposal skripsi. Tapi, yah hasrat untuk menulis tinggi banget. Sekarang gue gak bisa mungkirin lagi kalo menulis adalah my best escape buat semua masalah- masalah yang ada. Gue belom cerita yah kalo minggu- minggu ini gue mulai untuk praktek mengajar di SMA (disebutin gak yah hehe), yah pokoknya di salah satu SMA di Bandung yang berlokasi di jalan Ir. H. Juanda, depan Burger Rocks hah sama aja ini mah, pasti bisa nebak haha. Katanya itu adalah salah satu sekolah terfavorit di Bandung. Salah satu personel vocal group aja yang katanya berisikan tujuh pria bertalenta itu yang lagi happening gillla (baca ala alay, huruf 'L' nya Qalqalah Qubro), sekolah disitu. Hiddih, sungguh sangat tidak penting sodara- sodara! Sekolahnya memang bagus, peraturannya juga lumayan ketat, tapi kalah ketat kok sama bajunya Bang Saipul Jamil.
Awal- awal sih masih kaget harus bangun jam 4 karena jam 6.45 harus udah di sekolah. Dan sodara- sodara, akhirnya gue upacara lagi setelah kira- kira 2 atau 3 tahun tidak melakukan kegiatan rutin di senin pagi itu. Gue dapet kelas XI IPS 2. Gak jauh- jauh dari stereotype anak- anak IPS yang rata- rata berisik dan susah di atur. Tapi, yang ini gue rasa wajar- wajar aja, mereka memang agak susah untuk diajak serius, mereka pengennya suasana belajar yang nyantai. Gue ngajar senin dan selasa, kamis gue piket. Entah kenapa gue didaulat jadi PJ (Penanggung Jawab) piket hari kamis, padahal gue bisa apa dan anak cowok juga banyak, kenapa gue yang dipilih, agak bĂȘte sih. Tapi yaudahlah, take this chance and prove them all that I can do this challenge *sungut berapi-api Awalnya gue megang ekskul Angklung tapi karena Meta (temen PLP, ngajar bahasa jepang) pengen jadwal hari sabtu karena hari jumatnya dia bimbingan skripsi, tukeran deh ama gue yang katanya jadwal ekskul Hiji (Jurnalistik) hari jumat. Alhasil gue megang ekskul Jurnalistik itu. Wow, jurnalistik, gue sangat tertarik dengan bidang ini sebetulnya. Kemaren juga udah ngobrol- ngobrol dengan ketua ekskulnya. Dan strereotype pun kembali terbangun, rata- rata sama tau tipenya anak- anak atau ketua mading, jurnalistik atau apa lah yang berhubungan dengan kewartawanan. Tipenya mirip haha. Kayak temen SMA gue si Naning yang dulunya juga megang ekskul mading haha. So far, this runs so well. *backsound: "You know me so weeellll" Gue mulai mengikuti ritme pekejaan gue yang ini. Memang, semua butuh pembiasaan. Semoga seterusnya lebih baik lagi, aminn.
Melihat murid- murid gue senang adalah salah satu hal yang berharga dan gue impi- impikan, terlepas dari gue benci mengajar. Yah, memang gue masih tidak bisa menerima kalo gue ini teacher to be. Tapi, ketika gue melihat mereka tertawa, senang, apalagi senang belajar bahasa inggris, semua itu bikin hati gue memuncak bahagia. Mendengar mereka menyapa “Hallo Ibuuuu…” atau “Dadah Ibu…”. Jadi inget Tata, anak murid di tempat kursus gue dulu yang selalu menyapa “Kak Juwitaaaa…”. Itu tuh hal kecil yang bisa bikin mood gue back on the track tau gak. Cobain deh mengajar hehe. Mengajar itu sebenernya menarik hanya perangkat- perangkatnya saja yang bikin ribet. Harus menyusun RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), baju formal, sepatu ketak- ketok, ahh ribet. Gue gak terlalu suka atribut- atribut seperti itu yang bisa membentuk jarak dan hirarki yang tak terlihat. Tapi mau gimana lagi, terima aja lah. Semoga gue bisa menjalani ini dengan baik sampai bulan Juni nanti amiiin.
*PLP: Program Latihan Profesi, Guru PLP, Guru Program Latihan Profesi. Hallahh
Awal- awal sih masih kaget harus bangun jam 4 karena jam 6.45 harus udah di sekolah. Dan sodara- sodara, akhirnya gue upacara lagi setelah kira- kira 2 atau 3 tahun tidak melakukan kegiatan rutin di senin pagi itu. Gue dapet kelas XI IPS 2. Gak jauh- jauh dari stereotype anak- anak IPS yang rata- rata berisik dan susah di atur. Tapi, yang ini gue rasa wajar- wajar aja, mereka memang agak susah untuk diajak serius, mereka pengennya suasana belajar yang nyantai. Gue ngajar senin dan selasa, kamis gue piket. Entah kenapa gue didaulat jadi PJ (Penanggung Jawab) piket hari kamis, padahal gue bisa apa dan anak cowok juga banyak, kenapa gue yang dipilih, agak bĂȘte sih. Tapi yaudahlah, take this chance and prove them all that I can do this challenge *sungut berapi-api Awalnya gue megang ekskul Angklung tapi karena Meta (temen PLP, ngajar bahasa jepang) pengen jadwal hari sabtu karena hari jumatnya dia bimbingan skripsi, tukeran deh ama gue yang katanya jadwal ekskul Hiji (Jurnalistik) hari jumat. Alhasil gue megang ekskul Jurnalistik itu. Wow, jurnalistik, gue sangat tertarik dengan bidang ini sebetulnya. Kemaren juga udah ngobrol- ngobrol dengan ketua ekskulnya. Dan strereotype pun kembali terbangun, rata- rata sama tau tipenya anak- anak atau ketua mading, jurnalistik atau apa lah yang berhubungan dengan kewartawanan. Tipenya mirip haha. Kayak temen SMA gue si Naning yang dulunya juga megang ekskul mading haha. So far, this runs so well. *backsound: "You know me so weeellll" Gue mulai mengikuti ritme pekejaan gue yang ini. Memang, semua butuh pembiasaan. Semoga seterusnya lebih baik lagi, aminn.
Melihat murid- murid gue senang adalah salah satu hal yang berharga dan gue impi- impikan, terlepas dari gue benci mengajar. Yah, memang gue masih tidak bisa menerima kalo gue ini teacher to be. Tapi, ketika gue melihat mereka tertawa, senang, apalagi senang belajar bahasa inggris, semua itu bikin hati gue memuncak bahagia. Mendengar mereka menyapa “Hallo Ibuuuu…” atau “Dadah Ibu…”. Jadi inget Tata, anak murid di tempat kursus gue dulu yang selalu menyapa “Kak Juwitaaaa…”. Itu tuh hal kecil yang bisa bikin mood gue back on the track tau gak. Cobain deh mengajar hehe. Mengajar itu sebenernya menarik hanya perangkat- perangkatnya saja yang bikin ribet. Harus menyusun RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), baju formal, sepatu ketak- ketok, ahh ribet. Gue gak terlalu suka atribut- atribut seperti itu yang bisa membentuk jarak dan hirarki yang tak terlihat. Tapi mau gimana lagi, terima aja lah. Semoga gue bisa menjalani ini dengan baik sampai bulan Juni nanti amiiin.
*PLP: Program Latihan Profesi, Guru PLP, Guru Program Latihan Profesi. Hallahh
Monday, 14 February 2011
Konser Magis
Setelah sekian lama, akhirnya tadi malem bisa mengobati kerinduan gue akan gigs. Yup, Efek Rumah Kaca (ERK) adalah band yang gue nanti- nantikan untuk perform di acara MAKMA di Universitas Katholik Parahyangan. Gue kesana bareng Agung untuk ketemuan dengan Milta, Amie, dan yang lainnya. Kita menclok dulu di stand yang menjual berbagai merchandise ERK, yang dijaga oleh bang Aco. Eh kita malah ikutan jualan disitu. Banyak mulai dari kaos- kaos ciamik, CD, dan yang lain.
Tentunya harus bersabar dulu untuk melampiaskan kekangenan gue yang memuncak ini. Yup, gue harus menyaksikan acara- acara yang telah diprogramkan dulu sebelum berteriak bersama ERK. Mulai dari dance- dance, drama, sampai band Belankangka dan Sarasvati. Yang terakhir ini udah dikenal banget dengan lirik dan syairnya yang terdengar magis. Dari awal sang vokalis masih tergabung dalam band indie Homogenic, dia memang terkesan beda. Di album pertama yang sering gue denger, memang sih kesannya dia membawa dunia lain ke lagu- lagunya. Ditambah cerita Milta yang memang tau dari blognya. Entah kenapa sang vokalis ini keluar dan digantikan. Dan ini berefek pada tone di lagu- lagu Homogenic setelahnya.
Tadi malam adalah gue perdana nonton Sarasvati secara live, emang gak tau juga sih lagunya. Dan mereka sukses membuat bulu kuduk penonton merinding, aroma magisnya lekat banget, lagunya seakan membuat ‘mereka yang lain’ datang diantara kita. Ditambah kostum vokalis yang berwarna merah darah, lagu yang tiba- tiba paused, alunan ‘nyinden’, body language sang vokalis yang penuh gaya mistis juga dia menamakan diri sebagai kuntilanak dan anak kecil yang bernama Peter menghiasi panggung mistis itu. Hmmm…
Akhirnya ERK beraksi juga setelah usaha kita meraung- raung MC yang sepetinya sudah tidak ada ide lagi mau ngapain di atas panggung. Seperti aksi panggung yang sudah- sudah, mEReKa selalu bisa membius kita dengan lagu- lagunya. Menurt gue, ERK juga punya aura magis tapi berbeda konteks dengan Sarasvati. mEReKa sanggup menghadirkan dan menciptakan suasana yang bisa menaik-turunkan mood kita. Berteriak akan kemunafikan sampai ber-Melankolia akan kemurungan. Dan gue gak mau melewati kesempatan ini dengan tidak bernyanyi sekeras- kerasnya, sampe Agung ngeliat lagi ke muka gue. Haha, aneh kali yah biasanya gue diem ini brutal banget.
Konser selesai dengan ledakan kembang api. Dan kita pun menunggu untuk bertemu dan berbincang dengan mereka. Sebenernya sih gue yang pengen banget, soalnya kangen banget udah lama gak ketemu, sekalian mintain tanda tangan buat adek gue yang entah kenapa tiba tiba suka indie terutama Efek Rumah Kaca. Parahnya lagi, dikira gue standar lah orang yang baru suka ERK paling sekitaran ‘Balerina’ atau ‘Desember’, gak taunya lagu pertama yang disukainya ‘Kamar Gelap’, parah! Sebernnya sih agak malu gue, milta juga sempet menciut soalnya kita udah keseringan. Hehe…Setelah obral- obrol singkat, kita juga diajak makan bersama mereka tapi kita menolak dengan ragu haha, akhirnya bang Cholil (vokalis) merasa iba dengan muka melas kita dan ngasih jeruk ke Arief. Pulangnya, Milta bareng Arief naek motor, gue dan Agung tadinya berniat untuk naik angkot. Karena angkot tak kunjung datang, kita jalan dari Unpar sampai McD setiabudhi, huh betis pecah. Hehe gak ding kan gue udah berpengalaman *bangga. Akhirnya ada juga angkot, sampailah di kostan. Sangat lelah malam itu. Niat jogging di minggu pagi pun dibatalkan tanpa pertimbangan hehe.
Tentunya harus bersabar dulu untuk melampiaskan kekangenan gue yang memuncak ini. Yup, gue harus menyaksikan acara- acara yang telah diprogramkan dulu sebelum berteriak bersama ERK. Mulai dari dance- dance, drama, sampai band Belankangka dan Sarasvati. Yang terakhir ini udah dikenal banget dengan lirik dan syairnya yang terdengar magis. Dari awal sang vokalis masih tergabung dalam band indie Homogenic, dia memang terkesan beda. Di album pertama yang sering gue denger, memang sih kesannya dia membawa dunia lain ke lagu- lagunya. Ditambah cerita Milta yang memang tau dari blognya. Entah kenapa sang vokalis ini keluar dan digantikan. Dan ini berefek pada tone di lagu- lagu Homogenic setelahnya.
Tadi malam adalah gue perdana nonton Sarasvati secara live, emang gak tau juga sih lagunya. Dan mereka sukses membuat bulu kuduk penonton merinding, aroma magisnya lekat banget, lagunya seakan membuat ‘mereka yang lain’ datang diantara kita. Ditambah kostum vokalis yang berwarna merah darah, lagu yang tiba- tiba paused, alunan ‘nyinden’, body language sang vokalis yang penuh gaya mistis juga dia menamakan diri sebagai kuntilanak dan anak kecil yang bernama Peter menghiasi panggung mistis itu. Hmmm…
Akhirnya ERK beraksi juga setelah usaha kita meraung- raung MC yang sepetinya sudah tidak ada ide lagi mau ngapain di atas panggung. Seperti aksi panggung yang sudah- sudah, mEReKa selalu bisa membius kita dengan lagu- lagunya. Menurt gue, ERK juga punya aura magis tapi berbeda konteks dengan Sarasvati. mEReKa sanggup menghadirkan dan menciptakan suasana yang bisa menaik-turunkan mood kita. Berteriak akan kemunafikan sampai ber-Melankolia akan kemurungan. Dan gue gak mau melewati kesempatan ini dengan tidak bernyanyi sekeras- kerasnya, sampe Agung ngeliat lagi ke muka gue. Haha, aneh kali yah biasanya gue diem ini brutal banget.
Konser selesai dengan ledakan kembang api. Dan kita pun menunggu untuk bertemu dan berbincang dengan mereka. Sebenernya sih gue yang pengen banget, soalnya kangen banget udah lama gak ketemu, sekalian mintain tanda tangan buat adek gue yang entah kenapa tiba tiba suka indie terutama Efek Rumah Kaca. Parahnya lagi, dikira gue standar lah orang yang baru suka ERK paling sekitaran ‘Balerina’ atau ‘Desember’, gak taunya lagu pertama yang disukainya ‘Kamar Gelap’, parah! Sebernnya sih agak malu gue, milta juga sempet menciut soalnya kita udah keseringan. Hehe…Setelah obral- obrol singkat, kita juga diajak makan bersama mereka tapi kita menolak dengan ragu haha, akhirnya bang Cholil (vokalis) merasa iba dengan muka melas kita dan ngasih jeruk ke Arief. Pulangnya, Milta bareng Arief naek motor, gue dan Agung tadinya berniat untuk naik angkot. Karena angkot tak kunjung datang, kita jalan dari Unpar sampai McD setiabudhi, huh betis pecah. Hehe gak ding kan gue udah berpengalaman *bangga. Akhirnya ada juga angkot, sampailah di kostan. Sangat lelah malam itu. Niat jogging di minggu pagi pun dibatalkan tanpa pertimbangan hehe.
Subscribe to:
Posts (Atom)
