Wednesday, 10 April 2013

BPPT: Energi Panas Bumi Efisien Untuk Listrik

Kategori: (OJT)
15:48 Senin, 23 Juli 2012

Jakarta, 23/7 (ANTARA) - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi menilai energi panas bumi lebih efisien untuk pembangkit tenaga listrik karena menggunakan uap yang telah tersedia.

"Energi panas bumi tidak merusak lingkungan, seperti penambangan batubara dan tidak terganggu oleh cuaca karena masalah transportasi," kata Deputi Kepala Bidang Teknologi Informasi, Energi dan Mineral Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Unggul Priyanto saat dihubungi di Jakarta, Senin.

Unggul menambahkan, energi panas bumi lebih bersih karena tidak melepaskan polutan seperti Sox dan Nox ke udara.

"Selain itu, energi panas bumi juga tidak memberikan emisi CO2 yang bisa memberikan kontribusi ke pemanasan global," kata dia.

Dia menjelaskan sumber energi panas bumi lebih berkelanjutan selama lingkungan di sekitarnya dijaga dan dipelihara.

Pernyataan tersebut menyusul kebijakan pemerintah yang menaikkan harga listrik yang dihasilkan pembangkit listrik panas bumi.

Pemerintah baru memanfaatkan lima persen dari 40 persen dari cadangan potensi panas bumi dunia yang dimiliki Indonesia karena berada di jalur cincin api.

Kenaikan tarif listrik tersebut bergerak dari 9,7 sen dolar AS menjadi 10-17 sen dolar AS per killowatt hour (kWh) dengan konsumsi energi nasional yang tumbuh sebesar enam persen per tahun.

Energi panas bumi dikenal lebih hemat dari energi fosil karena bisa berpotensi menghasilkan energi listrik sebesar 29.038 MW atau setara dengan 1,1 juta barrel minyak per hari.

Kurang efektif

Namun, menurut Unggul, pembangkit listrik dari energi fosil lebih efektif karena dapat dibuat dalam skala yang lebih besar dan tidak tergantung energi setempat.

"Sebagian besar potensi sumber panas bumi ada di pegunungan, akibatnya jaringan pengiriman listriknya cukup mahal karena jauh dari konsumen. Selan itu, energi panas bumi hanya bisa dipakai di tempat sumber panas bumi dihasilkan, tidak bisa dipakai ditempat lain yg jauh," katanya.

Dia menejelaskan, energi fosil seperti minyak bumi dan batubara yang bisa dibawa ke mana saja dan diperdagangkan, sehingga untuk daerah yg tidak punya sumber energi apapun bisa menggunakan energi minyak bumi dan batubara.

Unggul menambahkan pelaksanaan mekanisme energi panas bumi seringkali terbentur dengan hukum dan peraturan-peraturan di bidang lain, seperti hutan lindung dan hutan konservasi.

Menurut Anggota Komisi VII DPR RI Dewi Aryani, pemerintah perlu membuat kebijakan yang menyeluruh tidak secara pasrsial karena energi merupakan sektor yang menjadi patokan pembuatan kebijakan lainnya.

"Pemerintah harus segera menentukan sikap karena cadangan energi fosil yang semakin menipis mengingat permintaan terhdapat energi tersebut kian meningkat," katanya.

Dia berharap pemerintah dapat bekerjasama dengan negara-negara lain dalam telah sukses mengelola energi baru terbarukan, seperti panas bumi.

***3***

T.SDP-54
(T.SDP-54/B/A025/A025) 23-07-2012 15:48:29
Daerah : Jakarta (JKT)


P.S: Ini tulisan yang gue janjiin di postingan sebelumnya

Wednesday, 3 April 2013

Yeay






Huehehe, Jadi ceritanya gue jadi salah satu nominator ajang penghargaan di bidang jurnalistik. Kenapa nominator? Karena yang jadi juara cuma satu, juara dua dan tiganya disebut nominator. Gue masuk di kategori “online” dan itu adalah piala pertama yang gue dapet selama hidup gue haha. Soalnya, gue seringnya dapet piala yang “Mira” alias Milik Rame-rame, palingan seputar lomba berkelompk, macam teater, paskibra, pramuka, gerak jalan, tarik tambang dan lainnya.

Gak nyangka juga bakal masuk nominasi, soalnya pas dikasih tau lewat email ada sekitar 14 nominator yang menurut gue “ah udahlah gak usah ngarep terlalu banyak”. Pas datang ke acara penganugerahannya, dikira gue bakal disebutin tuh 14 nominator, baru nanti dibacakan siapa pemenangnya, gak taunya cuma tiga nominator aja dan ada nama gue di situ. Gue sih mesem-mesem aja “weits nama gue disebut, menang apa kagak, yang penting kesebut dulu aja” haha. Eh gak taunya, udah tiga nama ditampilkan dan disebut, ketiga yang punya nama itu disuruh maju ke atas panggung untuk menerima penghargaan.

Kaget juga gue. Pas gue maju, sempet salting hahaha, siwer sama lampu sorot dan blitz kamera. Senyum gue juga ah pasti garing banget deh. Dan yang gak bikin nyangka, tulisan yang menang itu adalah tulisan yang “juru kunci” lah buat gue. Gue kirim tiga tulisan, yang gue niatin banget malah gak dapet, yang kedua juga enggak dan yang ketiga ini karena keingetan aja “kayaknya gue pernah bikin tulisan seputar energi deh”. Dan itu pun ditulis pas masih magang, kode gue aja masih SDP haha. Nulisnya juga cuma iseng-iseng telfon orang BPPT pas liburan di rumah. Gak nyangka tulisan itu yang bikin kepincut juri.


*ini dia yeayy 
Malem itu gue seneeeng banget, bahkan gue sempet berujar “it’s my night” meski gak raih juara I. Gue ke acara yang biasanya gue pergi buat liputan, ini malah dihibur, main angklung plus ada band kesukaan si Miltha ahaha.  

Setiap hasil, pasti ada proses dan perjuangannya. Gue sempet berpacu dengan waktu karena ngirim di hari terakhir dengan mengojek ke kantor pos di Lapangan Banteng gara-gara pos di kantor gue lagi gak bisa melayani buat pengiriman. Lah buat apa donk? 

Beberapa hari kemudian, saldo rekening gue bertambah dan gue dapet ini.. Yihaa... hahaha


Setelah itu, gue jadi semangat buat ikut lomba lagi hehehe...Gue juga sempet ikut lomba lagi dan temanya lebih parah tentang Angkatan Laut, tapi sampai saat ini belum ada pengumuman. -__-

P.S: Nanti share juga ya tulisan gue itu hehe..
       Yang punya majalah Tempo edisi sekitar 9 Novemeber 2012, boleh diminta ya..kata temen ada foto gue di situ hihi.   

To Thank God

Belakangan terakhir lagi ramai celetukan penyanyi kondang Anggun C Sasmi yang bilang kira-kira begini "Hidup itu gak semulus pahanya Cherry Belle". Memang betul, kalau kita perhatikan sebagai suatu kendala, muncul saja tidak berhenti-henti di waktu kapanpun dan dalam bentuk apapun. Misalkan, ketika masalah pekerjaan sudah terselesaikan, ada saja misalnya masalah dengan orang sekitar, rumah tinggal dan banyak lagi kalau kita mau urutkan satu per satu. "Kayaknya adaaa ajaa" kalau kata orang-orang kebanyakan seperti itu hehe. Tapi, beda lagi memang kalau kita lihat itu sebagai suatu tantangan. Itu semua terasa berkah.  Memang, men-switch dari bencana ke anugerah itu sulit dan gondok di hati. But let the breeze blow to you, meski di Jakarta susah banget dapet breeze yang ada kesemprot asap Kopaja.

Kayak beberapa waktu lalu, gue belajar sesuatu (it has nothing to do with Syahrini, anyway). Gue disuuruh liputan mendadak (lagi dan lagi) ke Museum Joang di Cikini pukul 11.00, sementara gue dikasih taunya pukul 12.30. Gubrak! Dan setelah itu gue liputan ke DPP Partai Hanura daerah Tanjung Karang yang agak muter dari lokasi sebelumnya. Pas balik kantor, handphone gue ngadat deh, batrenya udah buncit. Dan gue belum kunjung mentranskrip rekaman dan belum ada berita dari Hanura yang gue buat. Tetiba, keadaan kantor agak panik, gue liat Wapemred mondar-mandir. Gue sebenernya udah ngambil tempat komputer yang paling ngumpet eh akhirnya dia nyamperin gue dan berkata:

"Juwita, kamu bisa kan jalan ke Istana?" 
"Ngapain Pak ke Istana? Lho, gak apa-apa saya pakaiannya begini (Jeans+jaket)? (Kalau liputan di Istana harus rapi pake kemeja dan celana bahan)
"Gak apa-apa"
"Ada apa Pak di Istana?"
"Kebakaran!"

Temen-temen gue yang tadi bergosip pun pada diem, mereka mungkin ngerti gue lagi riweuh gara-gara handphone eh disuruh mendadak liputan, kebakaran, istana lagi yang kebakarnya. Padahal di situ ada Yuni, temen satu desk politik, yang terang-terangan keliatan. Yaudah, gue ke bawah naik ojek dan sempet berantem juga tuh sama tukang ojek dan berhenti di halaman Istana Merdeka. Gue ngikutin tiga fotografer yang juga tidak mengindahkan pertanyaan gue yang panik. Bodo amat, gue berani-beraniin minta nebeng abisan gue gak tau musti kemana.

Nyampe di lokasi, mereka malah mau naik ke gedung badan penanggulangan bencana apalah itu buat ngambil gambar. Gue langsung nyebrang dan ketemu temen-temen wartawan yang gue kenal. Mereka gak bisa masuk karena gak punya id pers istana, yang boleh masuk cuma wartawan istana aja. Yaudah gue wawancara sebisanya ke pihak kepolisian sama suku dinas kesehatan Jakarta dan selanjutnya melakukan telepon interaktif dengan Pak wapemred. Udah agak lama, Jokowi pun dateng terus gue juga sempet wawancara Kapolda Metro Jakarta meski ujungnya ditegor karena enggak tau itu kapolda hehe.

Setelah konfrimasi ke Wapemred gue boleh balik apa enggak, ternyata boleh. Alhamdulillah. Akhirnya gue balik bareng anak Antara TV, lumayan kagak ngongkos. Sampe kantor, pas ngaca udah deh sekucel-kucelnya muka, laper pulak. Ternyata kantor udah ngebeliin nasi padang sama beberapa kaleng biskuit Kong Ghuan haha Alhamdulillah. *jogeddora

Di satu sisi, saya dapat pengalaman bagaimana meliput peristiwa hectic yang biasanya diskusi santai, terus saya juga dikasih kesempatan buat menebus dosa karena gak wawancara Pemred dan buat berita barunya.  Yuni juga bersyukur karena dia tidak terseret dalam jerat liputan meski jelas-jelas terlihat dan dia menuliskan yang kira-kir begini di status BBM-nya, "Thanks JC, I feel Your protection".

We both said "Thanks God"

P.S: postingan ini ditulis beberapa waktu lalu.



Tuesday, 12 March 2013

Ketika Kelapa Sawit Berubah Menjadi Helikopter



 Oleh Juwita Trisna Rahayu
         Geligi gergaji mesin itu seperti tidak sabar ingin menggerogoti batang kelapa sawit yang kokoh dan penuh air. Mesin dinyalakan, olinya menetes seperti liur. Ujung lidah gergaji itu mulai menyentuh serabut hitam yang menutupi batang yang sedikit demi sedikit termakan.
        Dan "hap" kelapa sawit itu tumbang, batangnya menghantam keras ke tanah. Kelapa sawit tumbang, tumbuh ilalang. Namun, hamparan hijau muda itu tak seluas dahulu. Wilayahnya lama-kelamaan tergeser oleh "helikopter-helikopter" yang baru saja menumbuhkan "baling-balingnya".
        "Ini kami sendiri yang menamai karena belum teridentifikasi namanya. Lihat, daunnya seperti susunan baling-baling helikopter," kata Ahmad Azhari, Koordinator Tim Restorasi Yayasan Orangutan Sumatra Lestari-Orangutan Information Center (YOSL-OIC) sembari menunjukkan tanaman penyelamat hutan gundul tersebut.
        Jika tertiup angin, daun-daunnya bergerak persis seperti putaran helikopter, tambah pria yang lebih dikenal dengan sebutan Ari itu.
        Jumlah helikopter kini telah mencapai 1123 bibit, 642 bibit pada tahap pembibitan satu dan 481 pada tahap pembibitan dua.
        "Yang sudah tertanaman di hutan (kawasan restorasi) sudah ribuan dan jumlahnya bertambah karena dibantu burung-burung yang menyebarkan benihnya," kata dia.
   Bukan hanya helikopter, rambutan (Nephelium lappaceum), pulai (Alistonia scholaris), jeluak (Mallotus barbatus), turi-turi (Sesbania grandiflora), sempuyung (Hybiscus macrophllus) bahkan durian (Durio spp.) telah menggantikan posisi kelapa sawit dan ilalang di kawasan restorasi Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), Desa Halaban, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara.
        Hingga kini sudah 125 ribu bibit pohon dihasilkan. Berdasarkan data dari YOSL-OIC, jumlah produksi bibit hingga Desember 2012 mencapai 90.720 bibit dari 41 spesies.
        Masih ada 165 ribu bibit lagi yang harus ditumbuhkan hingga tiga tahun ke depan untuk menutupi 100 hektar lagi lahan gundul kawasan tersebut, katanya.
        Mengapa harus menebang kelapa sawit? "Kelapa sawit tidak boleh ditanam di kawasan restorasi," jawab Ari singkat.
        Lelaki itu menjelaskan sawit-sawit tersebut merupakan bentuk dari perambahan kawasan restorasi TNGL yang seharusnya tidak boleh terjadi.
      
    Cegah Banjir, Tampung Air
   Jika kawasan terus dirambah dengan menanam kelapa sawit, tanahnya akan semakin sulit menyerap air karena sifat akar kelapa sawit yang sulit mengikat air, sehingga rentan terjadi longsor dan banjir.
        Ari menjelaskan sebelum ditanami bibit-bibit tanaman konservasi tersebut, kawasan hutan TNGL kerapkali dilanda banjir.
        Banjir tersebut mengakibatkan tanaman yang tidak resisten ikut terbawa arus.
        Namun, menurut dia, banjir tidak selalu berdampak negatif. Lumpur pascabanjir ternyata baik untuk menyuburkan tanaman.
        Selain itu, dia menjelaskan batang kelapa sawit besar sangat menguras cadangan air tanah yang seharusnya dipakai warga untuk kebutuhan sehari-hari.
        Warga sampai membeli air seharga Rp600 ribu untuk dua drum atau sebanyak 150 liter.
        "Ini aneh, kawasan hutan hujan tropis tapi krisis air," ujar Ari.
        Namun, seiring dengan kian banyaknya bibit-bibit helikopter dan kawan-kawannya tumbuh bahkan meninggi, banjir tidak lagi ditemukan di kawsan tersebut. Warga pun bisa mengambil air tanah, sehingga beban ekonomi mereka pun berkurang.
        Sementara itu, menurut Direktur YOSL-OIC Panut Hadisiswoyo penebangan kelapa sawit buka aksi yang ilegal.
        "Justru kita menebang kelapa sawit yang penanamannya ilegal karena merambah lahan konservasi TNGL. Bahkan batasnya jelas," terang Panut.
        Pihaknya juga telah berupaya meluruskan pandangan masyarakat akan perambahan tersebut.
        "Kami harus menunjukkan kepada masyarakat bahwa sawit ilegal harus ditebang. Kami juga menyerahkan penebangan ke pihak TNGL dan masyarakat ikut menyaksikan dalam proses penebangan tersebut.
        Dia tidak menampik awalnya warga terpukul dengan penebangan kelapa sawit tersebut, namun seiring berjalannya waktu, warga dapat mengikhlaskan kelapa sawit tersebut yang mencapai 500 hektar.
        Jika dihitung, kerugiannya mencapai satu juta dolar AS per tahun.
        Namun, menurut Panut, dampak ekologis dan dampak-dampak lainnya yang akan ditaggung masyarakat jauh lebih dari jumlah nominal tersebut.
    
   Mengurangi Utang Negara
   Dalam satu tahap penebangan, Panut mengatakan pihaknya bisa menghabiskan jutaan rupiah karena tiap satu batang kelapa sawit yang ditebang dihargai Rp15 ribu, belum termasuk upah dan biaya operasional penebang.
        "Karena, mereka (penebang) harus menginap di hutan selama proses penebangan dan lamanya tidak cukup satu atau dua hari," katanya.
        Namun, biaya untuk penyelamatan lahan konservasi tersebut selama ini hanya dari bantuan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang sebagian besar dari luar negeri, seperti Amerika Serikat dan Inggris.
        YOSL-OIC juga bekerja sama dengan Tropical Forest Coservation Action (TFCA) Sumatra terkait pendanaan penyelamatan lahan konservasi tersebut.
        Program tersebut merupakan pengalihan utang negara untuk lingkungan dengan mitra LSM, yakni Conservation International dan Yayasan Kenaekaragaman Hayati (Kehati) sebagai "swap-partner".
        Jadi, Pemerintah Amerika Serikat sepakat untuk menghapus utang luar negeri Indonesia senilai hampir 30 juta dolar AS selama delapan tahun (2009-2018), dengan mengalihkan dana hibah tersebut untuk perlindungan dan perbaikan hutan tropis di Indonesia.
        "Ini tidak dicatat sebagai pengeluaran negara karena semacam dana amanah yang boleh dikelola pihak pemerintah luar negeri dan pemerintah kita. Otomatis, upaya ini mengurangi utang negara," terangnya.
        Dia mengakui belum adanya bantuan pemerintah secara langsung untuk konservasi lahan tersebut.
        "Ini sebetulnya properti negara, tetapi mengapa status, perlindungan, pengawasan dan eksekusinya justru lemah," katanya.
  
   Memberdayakan Masyarakat
   Hingga saat ini sudah 400 hektar lahan gundul yang telah tertutupi tanaman hingga akhir 2012, artinya tinggal 100 hektar lagi yang harus dikonservasi.
        Tanaman-tanaman tersebut juga sebagian besar sudah tinggi dan rimbun. "Sehingga, kalau ada gajah di kejauhan sudah tidak terlihat lagi," katanya.
        Restorasi lahan tersebut juga bertujuan untuk mengembalikan habitat satwa-satwa yang mulai terancam, sehingga berdampak ke kehidupan manusia.
        "Ini juga bentuk mitigasi konflik dengan satwa, seperti gajah dan orangutan karena mereka akan merambah ke rumah-rumah warga jika habitatnya mulai dijamah," ujar Panut.
        Sebagai bukti, pada 2007 sebanyak 380 kelapa sawit ditumbangkan gajah yang mengamuk dan marah akibat tersengat aliran listrik yang dipasang petugas setempat untuk mengusir satwa yang disebut "datuk" itu oleh warga Desa Halaban tersebut.
        Selain itu, pihaknya bersama masyarakat juga telah memproduksi sebanyak 600 kilogram kompos dari kotoran gajah dari Oktober hingga Desember 2012, sebagai campuran media tanam.
        Masyarakat juga diarahkan untuk membentuk kelompok-kelompok pelatihan produksi bibit.
        "Pada triwulan sebelumnya telah terbentuk empat kelompok kerja restorasi, namun kegiatan pelatihan produksi bibit baru dapat terlaksana untuk dua kelompok," kata Manajer Program YOSL-OIC Masrizal Saraan.
        Bibit-bibit tersebut akan ditempatkan dan dirawat di pondok sebagai pusat pelatihan pendidikan (nursery training center). Hingga saat ini, sudah terbangun empat pondok restorasi dan lima unit pusat pembibitan di Kawasan Ekonomi Leuser (KEL) Blok Karo-Langkat.
        Masyarakat juga difasilitasi untuk mengikuti Sekolah Lapang (SL) untuk mengubah paradigma petani konvensional menuju paradigma petani yang ramah terhadap lingkungan hidup, kata Masrizal.
        SL tersebut melibatkan 25 petani kakao, karet dan holtikultura (kentang) di sejumlah desa di Kabupaten Langkat.
        Kini, petani terampil mamangkas kebunnya sendiri dan persoalan hama dan penyakit secara umum sudah dapat dikendalikan.
        Bahkan jika ingin mengendalikan hama, sudah bisa dilakukan dengan memanfaatkan bahan di sekitar lingkungan rumah untuk menjadi pestisida nabati, terangnya.
        Panut menyebutkan upaya tersebut merupakan wujud dari restorasi hutan, mitigasi konflik, sosial kapital, pendidikan dan penyadaran masyarakat, dan ekonomi lokal.
        "Jadi, sudah lengkaplah 'kebahagiaan' kami," katanya.
    Manusia dianugerahi alam yang begitu kaya dan bebas untuk mengolahnya. Namun, kebebasan tersebut seringkali tidak disertai tanggung jawab. Akan lebih bijaksana jika manusia juga berbalas budi atas apa yang telah alam berikan. Semoga kita masih bisa melihat "baling-baling helikopter" tersebut tetap "berputar" dan tidak patah.
    ***4***


Bisa juga dilihat di laman ini 
http://www.antaranews.com/berita/360438/ketika-kelapa-sawit-berubah-menjadi-helikopter 
http://sindikasi.net/warta/ketika-kelapa-sawit-berubah-menjadi-helikopter
http://www.indonesia-update.com/lihat.php?id=41572

Amarah Sang "Datuk" di Gunung Leuser



Oleh Juwita Trisna Rahayu
        Ari terbirit. Dia dan empat kawannya seketika mengambil langkah seribu saat si empunya gading dan belalai itu menggertak. Mudah saja bagi satwa yang bisa mencapai bobot lima ton itu untuk menghantam Ari dan kawannya. Namun, kata Ari, bukan itu tujuannya.
        "Dia hanya ingin menunjukkan siapa yang punya "power" (kekuatan) lebih dan ketika lawannya lari, dia tahu kami ini lemah, lalu dia kembali makan. "Datuk", hanya tidak mau diganggu," katanya.
        Warga Desa Halaban, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara yang tinggal di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) sejak dahulu memanggil hewan yang bernama latin Elephas maximus sumatranus itu dengan sebutan Datuk.
        Ahmad Azhari atau akrab disapa Ari, Koordinator Tim Restorasi Yayasan Orangutan Sumatra Lestari-Orangutan Information Center (YOSL-OIC), menjelaskan sebutan tersebut ditujukan untuk menghormati seseorang atau siapapun yang mempunyai kekuatan besar.
        Tidak satu kali itu saja Sang Datuk melampiaskan amarahnya. Ari bercerita pada 2007 saat restorasi lahan kritis TNGL menapaki langkah awal, gajah-gajah tersebut mengamuk, menumbangkan 380 pohon kelapa sawit hanya dalam satu malam lantaran tersengat aliran listrik yang dipasang oleh petugas TNGL setempat.
        "Bukan mereka makan, tapi hanya dibabat habis karena mereka betul-betul marah," ujarnya.
        Selain itu, kabel listrik yang menghantarkan sengatan ke tubuh gajah itu pun tidak luput dari perhatiannya. gajah-gajah itu membelitkan kabel-kabel itu ke beberapa pohon sawit untuk ditumbangkan dalam sekali aksi.
        Tidak hanya pohon kelapa sawit yang menjadi korban kemarahan gajah-gajah tersebut karena ulah manusia, dapur posko pembibitan tanaman untuk konservasi lahan pun pernah porak-poranda akibat amukan gajah-gajah tersebut.
        "Dapur kita hilang bambunya dipulas sampai retak," katanya.
        Kejadian tersebut terus berulang hingga pada saatnya gajah-gajah itu mengerti bahwa mereka hidup berdampingan dengan manusia.
        Mereka menyadari ini merupakan kawasan manusia dan Ari menilai dia dan rekan tim konservasi tidak merusak habitat tersebut justru ingin mengembalikannya.
        Akhirnya, gajah-gajah tersebut tidak lagi mengganggu karena memang sifat alaminya yang menghindari konflik dengan manusia, kata Ari.

   Satwa Pintar
   Amarah yang dilontarkan satwa bertelinga besar itu merupakan bentuk protes dari insting mereka akan hal-hal yang disuka dan tidak, apalagi sampai mengancam habitatnya.
        Ari mengaku sudah bertahun-tahun bergelut dengan gajah dan menilai mereka adalah satwa yang pintar.
        Pertengahan 2007, beberapa personel Brimob berusaha mengusir gajah dengan melepaskan tembakan ke udara. Awalnya efektif, gajah-gajah itu berlari menjauh dari sumber suara tembakan. Namun ternyata tidak cukup mengelabuinya untuk kedua apalagi ketiga kalinya.
        "Mendengar suara senapan, datuk pada lari ketakutan tapi lama-kelamaan, dia mungkin berpikir 'ah suaranya saja yang besar, tapi gak ada apa-apanya', jadi dia tetap santai makan di situ," ujarnya.
        Ari juga mengatakan jika gajah tersebut justru "sangat baik" terhadap masyarakat sekitar.
        Beberapa bulan yang lalu, dia menceritakan, warga sekitar menanam pohon pepaya yang tidak jauh dari pekarangan belakang rumah. Gajah-gajah tersebut ingin memakan batangnya, tetapi dia memetik buahnya terlebih dahulu, dia tutupi dengan daunnya untuk warga. Baru setelah itu, batangnya dia bawa ke hutan.
        Ari juga menunjukkan tanaman ficus yang pelepahnya merupakan makanan favorit sang datuk.
        "Kalau lima batang seperti ini, dia hanya ambil tiga dan menyisakan dua untuk makan berikutnya," ujarnya.
        Sang datuk tidak akan mengganggu, jika manusia tidak berbuat ulah, katanya.
        Ari pernah terjebak di antara koloni gajah yang melintas usai berkubang menuju hutan primer.
        "Kami waktu itu sedang berkereta (menggunakan sepeda motor) dengan kawan menuju posko, dan tiba-tiba tepat di depan kami ada sekitar empat gajah yang melintas. Kami diam dan menunggu mereka lewat dan buktinya mereka tidak menyerang," katanya.
        Gajah-gajah tersebut akan belajar dari apa yang dia alami, sehingga menuntut Ari dan warga sekitar mencari metode baru untuk menghalau gajah jika keberadaaan warga terancam, terang Ari.

   Mengedukasi Warga
   Seiring berjalannya waktu, konflik-konflik dengan gajah sudah berkurang bahkan sudah tidak pernah terjadi lagi, kata Ari.
        Keberadaan gajah saat ini jumlahnya terus meningkat, dari empat terus bertambah menjadi 15 dan saat ini mencapai 32 ekor. Jumlah tersebut belum termasuk koloni yang sering datang berempat atau bertujuh.
        Masyarakat saat ini sudah menerima keberadaan mereka dan mencoba untuk tidak mencari ribut dengan datuk.
        Menurut Ari, bukan gajah yang mengganggu warga sekitar, justru warga yang jelas-jelas menjamah habitat mereka.
        "Kawasan ini rumah mereka, kemudian kita datang dan mengganggu ya wajar kalau dia marah. Logikanya begini, ini jalan yang biasanya mereka pakai untuk lewat kemudian kita bangun rumah di situ, tidak heran jika dihancurkan," katanya.
        Dia dan tim restorasi pun mengadakan sosialisasi dan edukasi kepada warga untuk meluruskan pandangan-pandangan yang selama ini keliru.
        "Saya bilang, mereka itu binatang pintar. Yang penting kita tahu posisi kita dan jangan pernah mengganggu karena datuk akan selalu mengingat seumur hidupnya jika kita berbuat salah," katanya.
        Jika musim gajah datang, yakni sekitar Juni, warga sekarang ini bekerja sama bergantian menjaga posko.
       Dia juga mengatakan hingga saat ini belum pernah ditemukan kasus  gajah mati di sekitar kawasan TNGL.
       "Mudah saja bagi datuk untuk menghancurkan kita karena kami kecil dibandingkan dengan mereka. Jadi jangan berbuat ulah," katanya
   Apa yang dilakukan Ari dan tim restorasi merupakan bagian dari upaya mengembalikan hutan ke fungsi aslinya, seperti restorasi hutan, mitigasi konflik, sosial kapital, pendidikan dan penyadaran masyarakat, dan ekonomi lokal.
        Direktur YOSL-OIC Panut Hadisiswoyo upaya tersebut merupakan implementasi dari mitigasi konflik dengan satwa di kawasan TNGL.
        "Awalnya warga pakai meriam karbit untuk mengusir gajah, tapi dia semakin resisten. Karena itu, kami mencari cara-cara yang solutif," katanya.
        Hingga saat ini pihaknya telah menanam sebanyak 125 ribu bibit yang sudah ditanam untuk menutupi lahan ilalang agar tercipta kembali habitat bukan hanya untuk gajah, tetapi juga orangutan, harimau, babi hutan, landak, berbagai jenis burung dan satwa lainnya.
       Selain itu, pihaknya juga telah menghasilkan sebanyak 600 kilogram kompos yang diolah dari kotoran gajah selama Oktober hingga Desember 2012 sebagai bagian dari program restorasi koridor konektivitas dan lahan terdegradasi di Kawasan Ekonomi Leuser (KEL) Blok Karo-Langkat seluas 150 hektar.
       Panut menargetkan sekitar 165 ribu bibit lagi untuk menyelamatkan kawasan tersebut.
       YOSL-OIC juga bekerja sama dengan Tropical Forest Conservation Action (TFCA) terkait pendanaan program-program tersebut.
       Namun, pihaknya mengakui belum adanya bantuan langsung dari pemerintah untuk program restorasi lahan kritis tersebut, bahkan lebih banyak dari lembaga swadaya masyarakat (LSM) asing, seperti dari Inggris, Australia dan Amerika Serikat.
       Keberlangsungan ekosistem merupakan tanggung jawab kita bersama. Alam memberikan kehidupan bagi manusia. Tetapi apa yang telah manusia berikan untuk alam? Amarah sang datuk hanya salah satu tanda dari alam untuk menyadarkan manusia betapa digdayanya alam. Jangan tunggu hingga alam murka baru percaya.
    ***4***

dikutip juga di laman ini
http://eksposnews.com/view/11/50081/Jangan-Ganggu-Datuk-Leuser.html#.UT7x0666SSo
tapi judulnya diganti