Tuesday, 20 March 2012

Moving Again

Tidak terasa sudah hampir sebulan saya di kost ini. Itu berarti bulan depan atau tepatnya minggu depan saya harus sudah pindah ke tempat kost yang berada agak jauh dari tempat pelatihan saya. Padahal, awalnya saya merasa ingin cepat- cepat pindah dari sini karena harga kost yang tidak sesuai untuk fasilitas dan faktor lingkungan.

Ternyata disini tidak seburuk apa yang saya bayangkan. Lama- kelamaan saya bisa beradaptasi disini. Apalagi ada dua teman sepelatihan saya yang menge-kost di sekitar sini juga, Anom dan Ahmad. Seringkali, saya pulang bersama mereka. Waktu itu juga pernah jogging bareng ke Monas. Makanya, ketika Anom bilang, "wah, bakal kehilangan tetangga donk, aku," agak sedih juga. Iya, nanti saya bakal lebih awal berangkat dan lebih telat nyampe kostan, mengingat agak jauh. Berarti, harus lebih pagi bangunnya dan cuma punya waktu luang sedikit untuk jogging.

Sebenarnya saya ingin membeli sepeda biar nanti gak usah ngangkot lagi. Sudah saya mantapkan dan tetapkan hati saya untuk menabung dan membeli sepeda lipat (folding bike). Yea, I wanna make my bike as my vehicle for sure. Apalagi naik sepeda Minggu sore ke Taman Suropati Menteng berlatih gitar gratis bersama si Jangkung :D

Tidak sabar.

Monday, 19 March 2012

It's A Dust from The Steps Before.

Saya mau bilang makasih sama Tuhan untuk hari ini, hari saya merasa dibohongi, tetapi merasa bersyukur berada di tengah- tengah orang yang masih sayang sama saya. Bukan cuma itu, kita juga melakukan hal yanmg seru.

Saya malu untuk menceritakannya.

Nanti saja.

Big Hug

Berpeluk tangis setelah debat panjang itu benar- benar mengharukan. I love you, Mom.

Sunday, 11 March 2012

Prologue

This is the story about an early bird and a night owl.

Once upon a time.......

Saturday, 10 March 2012

Super Surprising.

He is there. He appears. I know that.
But........

Wednesday, 29 February 2012

:)

"I now pronounce you man and wife. Son, you may kiss your bride."

New adventure, New life, New people


Ini adalah malam kedua saya berada di kamar kost baru saya di daerah Gang Kelinci, Pasar Baru, Jakarta Pusat. Ya memang, daerah ini lumayan terkenal karena ada lagunya, “Gang Kelinci”. Saya sih lupa siapa yang pertama menyanyikan lagu itu, hanya ingat Agnes Monica lah yang mengenalkan lagu itu kepada saya di acara lagu anak Tralala Trilili. Kawasan ini merupakan kawasan multikultural, yaitu berbagai etnis dan budaya menyatu disini. Ada China, India (Tamil), Jawa, Sunda, Padang, dan penduduk asli Betawi. Namun, memang suku Tionghoa mendominasi disini. 

Tidak mudah memang, melakukan suatu perpindahan. Yang kita lihat, itu hanya bungkusnya saja. Nampak semua fase seperti Honeymoon Period, walaupun saya lebih suka Honeymoon On Ice hehe. Ternyata tidak. Setiap orang yang pernah pindah karena suatu hal, pasti mengalami perasaan yang campur aduk. Pasti muncul pertanyaan dalam batinnya, seperti “Kok seperti ini ya?”, “Kok berbeda ya?”, “Kalau mau beli makan kemana ya?”, “Apakah disini aman?”, “Apakah perilaku saya diterima disni?”. Banyak sekali kemelut pertanyaan yang seperti itu. Ya, setidaknya berdasarkan  pengalaman saya. 

Katanya, orang pandai adalah orang yang mampu beradaptasi dengan cepat. Entah saya dalam kategori itu apa bukan. Tentunya, ini bukan kali pertama saya merasakan pindah seperti ini. Pertama kali waktu itu, ketika saya pindah dari Serang ke Bandung untuk mengejar studi S1 saya. Jadi teringat dimana saya hanya bisa menangis ketika ingat adik- adik saya di rumah, Ibu, Bapak, dan lingkungan rumah saya. Merupakan hari- hari pertama yang amat berat, mengingat belum pernah merasakan seperti ini sebelumnya. Dan itu mengajarkan kepada saya bahwa sangat berartinya rumah dan keluarga di dalamnya. Betapa nyaman luar biasa bisa berada di tengah- tengah mereka. Dan rasa itu meruntuhkan dinding ke-idealisme-an saya di masa- masa beranjak dewasa yang sempat ingin meninggalkan rumah karena merasa tidak bebas. Namun, perlahan saya bisa menyesuaikan diri, dengan lingkungan sekitar, dengan budaya yang berbeda, bahasa, makanan, dan sebagainya. Sampai ketika saya ingin bertahan di Bandung. Merasa betah disana. 

Namun, saya harus meninggalkan Bandung. Tempat dimana saya menimba ilmu, berbagi tawa dan duka, semuanya. Bandung terlalu indah buat saya untuk dilupakan begitu saja, ribuan cerita tertinggal disana dan terbawa kesini.  Musik, padang rumput, sejuk, temaram, rindang, burung- burung kertas, sangat romantis. Yes, Bandung is my nest. And I must leave it (soon). 

Mungkin harus seperti ini. Hidup harus dihadapi, jangan diratapi. Seperti yang ada dalam pemahaman saya, “Jangan betah di zona aman!”, “Zona aman= zona bosan”. So many things out there on earth to be learnt. Walau tidak mudah, saya akan terus berusaha, menjalani setiap detiknya, terus bersyukur dan bersyukur, maka rasa bahagia akan seketika menjalar ke seluruh pembuluh darah. Apa sih yang engga buat mimpi? 

For our togetherness, for our laugh, for our future. 
 
“Some men are just in pursuit of a better life, others want shortcut. New adventure, new life, new people” – Love Begins