Monday, 16 May 2011

Highly Desired to Come Back There

Seminggu sudah workshop itu berlalu. Dan sabtu kemaren merupakan lanjutan workshop yang ketiga. Oh my! gue pengen banget ikutan lagi. Pengen banget! Tapi mau gimana lagi ini bukan workshop yang terbuka dan bebas untuk daftar, tapi workshop yang cukup private yang datengnya juga harus pake undangan. Jadi yang dateng yang diundang, kalo gak diundang ya diusir!

Seperti apa yang udah gue bilang di posting sebelumnya mengenai workshop itu yang sangat interaktif dan penuh inspirasi yang bisa diteapkan dalam mengajar, pokoknya kalo ukuran cewek mah kece deh tuh workshop. Mungkin suasananya juga kali yah yang memang berbeda.

Semakin jelas kalau gue memang butuh suasana baru atau sesuatu yang baru. Kesempatan untuk hadir dalam workshop itu memang di tengah- tengah kesibukan PLP gue Emang saatnya gue untuk liburan sepertinya. Bosen, menjalani yang itu- itu aja. Pengen cepet2 beres PLP. Biarkan aku liburan sejenak dahulu baru berjuang lagi melawan benteng pertahanan skripsi.

Wednesday, 11 May 2011

Jangar

Entah apa yang gue rasain sekarang, gak jelas banget. Gue merasa apa yah, sedih iya, seneng iya (sedikit tiba- tiba ilang), kalut iya, pokoknya kayak rujak lah. Tapi lebih ke rasa gak enaknya sih. Lieur pisan.. ..I rally wish I had ice cream now.

Sunday, 8 May 2011

Seminar di BIS

‘Happy’ is the single word that successfully describes my entire feeling yesterday. Why? Why? Why? Kenapa eh kenapa sodara- sodara. Jawabannya adalah karena gue abis seminar. Hah? Seminar? How come? What so outstanding with seminar that makes me soooo happy. Happy gara-gara seminar? Ajaib! Begini, gue certain ya, seminar kali ini bedaaa banget, jauh dari apa yang ada di bayangan orang- orang kalo ngedenger kata seminar, pasti asosiasinya adalah ceramah, boring, sharing yang dibuat- buat yang lebih menjurus kepada adu argumen dan gak jarang debat kusir pun tak terelakkan. Ini cuma pendapat gue aja ya berdasarkan apa yang gue alamin.

Jadi gue diajakin sama Nury ke seminar kemaren. Kita sebenernya disuruh ngegantiin kuota-nya Teh Nida yang gak bisa dateng lantaran doi mau ngehadirin resepsi pernikahan temannya. Gue sih mau- mau aja, kesempatan gak dateng dua kali. Apalagi begitu denger kalo ini seminar tentang interactive teaching target language, siapa tau ada sesuatu yang bisa menginsirasi gue dalam mengajar di kelas. Terus ini diadaiinnya di Bandung International School dan pembicaranya adalah native, pengajar bahasa Prancis di sekolah itu sendiri. Terus yang bikin gue lebih penasaran lagi adalah peserta seminarnya dibatasin hanya samapai 30 peserta saja. Wah, it will be private and great!

Begitu masuk ke kawasan Bandung International School, hawa- hawanya aja udah beda. Pas di administration desk-nya, langsung disambut sama 3 siswa yang merangkap jadi panitia yang cas cis cus nanya ke kita pake bahasa inggris. Rata- rata pesertanya sih para ibu, bapak guru SMP- SMA, jadi kita doank yang masih muda haha…eh tapi kita juga ketemu sama kakak tingkat yang udah mengajar di salah satu SMP di kabupaten Bandung. Jadilah kita bergabung.

Ternyata ini lebih ke workshop, bukan seminar. Kita duduk di kursi- kursi mengelilingi satu meja yang sudah dikelompokan, jadi berasa duduk di cafĂ©. Dan lo tau kita berada di ruang apa buat workshop itu? Auditorium? Balai Pertemuan? Gedung Serba Guna? SALAH! Kita berada di perpustakaan yang homy dengan segudang buku- buku berbagai bahasa yang diatur sedemikian rupa sehingga memudahkan akses bagi siapapun yang menginginkannya. Sofa- sofa nyaman, prakarya siswa, boneka- boneka, gambar- gambar, kata- kata yang ditempel dengan berbagai bahasa. Pokonya, itu ruangan bikin kita bergumam, “Begini seharusnya ruangan perspustakaan.” Nyaman, sehingga menggoda siapapun terutama murid untuk datang dan baca berjam- jam disana. Gak seperti ruangan perpustakaan di sekolah gue dulu, berdebu, gelap, banyak sarang laba- labanya. Angkerrr!

Gue banyak belajar vocabulary dan beberapa ungkapan bahasa Prancis, kayak la chaise, la livre, la fenetre, ouvrez le livre. Banyak banget gamesnya, juga break-nya haha. Sebentar- sebentar coffee break, eh gak lama batagor break. Esensinya sih bukan dari belajar bahasa Prancisnya tapi lebih ke teaching strategies-nya buat ngajarin target language yang bener- bener interaktif , gak bikin boring, dan yang jelas bikin mereka berasa main padahal lagi belajar.

Yang bikin gue amaze adalah seminar oops workshop ini cuma di-organisasi oleh 3 orang siswa yang masih kelas x-xi SMA cewek pula dan berjalan dengan lancar jaya. Yah, memang justru yang begini ini yang patut dicontoh, gak banyak ngelibatin orang jadi kerjanya maksimal tiap orangnya. Juga, yang lebih pentingnya adalah gak banyak panitia pengangguran yang seliweran gak ada kerjaan yang rata- rata masih pada blah- bloh kalo ditanya tentang agenda seminarnya itu sendiri. Bahkan masih suka nanya ke temen panitia lainnya, toilet dan mushola dimana? *hela napas panjang.

Gue jadi pengen banget ngajar disitu, ngiri sama Project Director-nya acara kemaren. Namanya Dadan, dia lulusan bahasa inggris UPI yang ngajar bahasa Indonesia di sekolah itu. Gak nyambung sih, tapi tetep bahasa inggrisnya mantep. Terang aja lawong tiap hari bahasa pengantarnya bahasa inggris ke siapapun yang ada disitu, murid, rekan kerja, kecuali mungkin ke mang- mang yang ngejagain disitu. Hehe

Makasih banyak yah Nury for giving me this valuable and prestigious chance. Kalo ada lagi gue mau lagi dateng, tapi kayaknya gak mungkin deh. Hehe. Saking happy-nya gue sampe gak ngerasa kalo badan gue gak enak banget, pegel- pegel, dan pas gue mewek air mata gue panas. Haduh kenapa lagi ya Allah. Tapi Alhamdulillah sih udah mendingan sekarangnya.

P.S: Pas gue lagi menikmati menu breakfast yang disediakan sebelum workshop, gue ngeliat ke madingnya ada pamflet Study Tour ke Perth! Disaat sekolah- sekolah ber-study tour ke Jogja, paling banter ke Bali, ini ke Perth! Walah *garuk- garuk kepala.

Wednesday, 27 April 2011

Prayer

Perasaan ini tak menentu, kenapa yah? Wahai Allah, Sang Pemilik hati ini, teguhkan dan tentramkanlah hati ini, agar terus mengingatMu.

P.S: Untuk dosen pembimbing tergantengku, semoga cepat sembuh :D

Tuesday, 26 April 2011

Early Evening Monologue

Menor amat mau kemana sih?
Gak emana- kemana.

Crazy But I Believe

Seharusnya saya sudah tidur jam segini, karena beberapa detik yang lalu jarum jam telah bergeser ke hari berikutnya. Entah sudah berapa kali saya memutar lagu ini. Saya hanya merasa damai saja ketika saya mendengar bait demi bait apalagi irama pada intro-nya. Lagu zaman dahulu (jadul) yang saya pun baru tahu siapa penyanyinya setelah mengunduhnya. Padahal lumayan sering dan sangat familiar sekali lagu ini, terlebih jika malam hari, beberapa stasiun radio memutar lagu ini sebagai andalannya karena memang cocok di suasana yang mengajak terbang melayang ini.

Sebenarnya saya ingin lagu ini menina-bobokan saya, tapi apa boleh buat saya tidak mungkin memeluk laptop ketika tidur. Pemutar musik saya rusak. Entah komponen apanya yang tidak berfungsi.

“I think I dream you into life”

Salah satu baitnya mengalun seperti itu. Mulut saya juga membentuk kata- kata mengikuti lirik lagu tersebut, hanya sedikit suara bisikan yang keluar karena kuatir penghuni rumah ini akan terbangun. Saya juga diam- diam menyanyikan lagi ini untuk sesorang di luar sana. Yang sedang terjebak. Selamat tidur untukmu, “Will you dream me into life?” satu jawaban pasti: ‘Impossible’.

Cinta itu gila. If it’s not crazy, it’s not love. Begitu kata Mario Teguh.
Dan cinta itu datangnya dadakan.

“Cinta datang tiba- tiba, cinta adalah anugerah yang kuasa.”
Juga tidak bisa dicegah dan tidak bisa diburu- buru, seperti lirik pada bait ini.

"You can’t hurry love”
"You just have to wait”
“She said loves don’t come easy”
“It’s a game of give and take”

Sudah tidur saja, siapa tahu dia ada di mimpiku. Kalau begitu, saya enggan terbangun.

Monday, 25 April 2011

Jangan Salah Peduli.

Jangan sedih kalo gak dijawab. Jangan murung kalo dicuekin. Jangan lemah kalo dimaki. Jangan pedulikan orang- orang yang taunya cuma menjelek- jelekan kita. Masih banyak yang sayang sama kita. Perhatikan mereka. Coba untuk peduli. Orang yang peduli lebih berarti dan dibutuhkan ketimbang orang yang tahu, begitulah kira- kira kata Iga Massardi. Asal jangan salah peduli.